Gaza bukan hanya berita di layar—ia adalah jeritan hidup dari bangsa yang terkepung, tapi tak pernah tunduk.
Mereka tidak meminta belas kasihan, mereka menuntut nushrah penuh, hingga bendera kebenaran berkibar di atas blokade yang runtuh.

🚢 Lihatlah! Dari 44 negeri, kapal-kapal berlayar menembus lautan.
Bukan untuk petualangan… tapi untuk berkata kepada dunia: Kami bersama Gaza, kami menolak tirani!

🌍 Inilah jihad zaman kita: dengan kapal, dengan pena, dengan suara, dengan keberanian moral.
Dan sejarah akan mencatat: siapa yang diam… dan siapa yang berdiri.

Bismillāh wal-ḥamdu lillāh, segala puji hanya milik Allah ﷻ, yang telah memuliakan umat ini dengan syahadat, mengangkat derajatnya dengan Al-Qur’an, dan menjadikan jihad sebagai mahkota kemuliaannya.

Tulisan ini lahir dari nadi Gaza yang berdarah, dari bumi ribath yang telah menjadi saksi pengorbanan tiada henti. Di sana, kaum beriman berdiri tegak mempertaruhkan jiwa dan harta, sementara dunia seringkali memalingkan wajah. Gaza bukan sekadar nama, ia adalah simbol izzah Islam, benteng terakhir kehormatan umat, dan medan nyata di mana janji Allah dan Rasul-Nya ﷺ terus bergaung.

Jihad yang dibahas di sini bukan teori kering, melainkan darah, air mata, dan doa yang bercampur menjadi satu. Ia adalah fardhu ‘ain atas setiap Muslim, baik yang berada di barisan perlawanan dengan senjata, maupun yang berada jauh namun tetap terikat dengan pena, harta, lisan, dan doa.

Semoga pembahasan ini menjadi pengingat, peneguh, dan pendorong agar setiap jiwa beriman menyadari kewajibannya, menolak rasa lemah, serta ikut mengangkat panji kebenaran—dengan caranya masing-masing—hingga Allah ﷻ menurunkan pertolongan dan kemenangan yang dijanjikan.

Janji Ilahi Tak Pernah Pudar

Musuh tampak kuat, tapi retaknya sudah nyata.

Dan di tengah banyaknya kabar tentang syahidnya Abu Ubaidah bersama keluarganya, sebagian orang mungkin mengira barisan akan melemah atau perjalanan akan berhenti. Tetapi kenyataannya, umat ini akan bangkit — dan inilah awal dari sebuah babak baru keteguhan.

Ini adalah pesan Allah bagi kita: bahwa syahadah adalah kehidupan, dan darah para pemimpin tidak memadamkan perjalanan, justru menambah nyala dan cahaya.
Seorang pemimpin gugur, maka seribu mujahid akan bangkit. Sebuah panji jatuh dari tangan seorang lelaki, maka ia akan terangkat oleh banyak tangan, dipikul oleh generasi yang tidak akan pernah patah.

Bukan dengan mimpi kosong, tapi dengan iman yang jujur, keteguhan yang tak tergoyahkan, dan strategi yang penuh kesadaran.

Inilah tiga pilar yang membuka jalan menuju kemenangan:
🌿 Tawakal yang murni kepada Allah
⚔ Keteguhan yang tidak terguncang
🕌 Strategi yang bijak dan terarah

Sebagaimana dalam Perang Ahzab, ketika para sahabat tidak melemah di hadapan lapar, dingin, dan rasa takut, tetapi tetap teguh hingga malaikat turun dan angin berhembus dengan pertolongan Allah.

Dan hari ini… sudah tiba waktunya kita mempersiapkan diri menjadi bagian dari barisan itu, barisan yang Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya kepada mereka.

📖 Baca selengkapnya dan renungkan jalan menuju pembebasan… karena janji Ilahi semakin dekat.

Mengapa Perang Gaza Berlarut (Part 2)

Prolog
Perang Gaza yang kita saksikan hari ini bukan sekadar peristiwa politik atau militer, melainkan episode besar dalam perjalanan sejarah umat Islam. Ia mengandung hikmah-hikmah mendalam yang hanya dapat dibaca dengan cahaya al-Qur’an dan sirah Nabawiyyah. Dengan memahami sunnatullah dalam ujian, kita akan melihat bahwa perang ini bukan akhir dari segalanya, tetapi pintu menuju kebangkitan, penyaringan iman, dan persiapan menuju janji Allah yang pasti.

Seperti halnya artikel pertama, tulisan ini berusaha menggali pelajaran Qur’ani dan Nabawi agar umat Islam dapat memandang pertempuran ini dengan kacamata iman, bukan sekadar berita. Ia adalah bagian dari tarbiyah ilahiyyah yang membentuk generasi pejuang akhir zaman, sekaligus tanda-tanda menuju wa‘dul ākhirah: runtuhnya Israel dan tegaknya kembali khilafah rasyidah di atas bimbingan wahyu.

Mengapa Perang Gaza Berlarut (Part 1)

Perang, dalam logika wahyu, bukanlah sekadar peristiwa sementara yang diukur dengan besarnya kehancuran atau lamanya waktu. Ia adalah cermin yang menyingkap keadaan hati, sekaligus timbangan tempat umat diuji sesuai kadar kejujuran dan keimanan mereka. Apa yang tampak bagi manusia sebagai peperangan yang berlarut, pada hakikatnya adalah tarbiyah Ilahi—proses penyucian dan penyiapan generasi yang tidak akan terkalahkan, karena mereka ditempa langsung di bawah pengawasan Allah dan di madrasah ujian.

Ketika menelusuri sunnah Al-Qur’an, kita akan memahami bahwa padamnya api peperangan tidak bergantung pada hitungan senjata semata, tetapi pada kejernihan panji yang dikibarkan, pada kadar ketakwaan yang nyata, pada terwujudnya al-walā’ wa al-barā’, pada tegaknya syariat, serta pada hidupnya amar ma‘ruf nahi munkar. Sejauh mana semua itu diwujudkan dalam barisan kaum beriman, sejauh itu pula janji Allah menampakkan diri: “Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya.”

Maka, berlarutnya perang bukanlah penafian janji Allah, melainkan isyarat atas adanya kekurangan dalam barisan kita, dan pesan Ilahi yang menegur kelemahan agar kita kembali kepada inti agama, hingga syarat-syarat kemenangan itu terpenuhi. Di sinilah hikmah itu bersemayam: bahwa perang, pada lahiriahnya adalah ujian berdarah, namun pada batinnya ia adalah pendakian ruhani, yang mengangkat derajat kaum beriman dan membuka jalan menuju kemenangan yang dijanjikan.